Jangan Tertipu Dengan Penjual Yang Mengatakan “Hanya Tersisa”

Jangan Tertipu Dengan Penjual Yang Mengatakan “Hanya Tersisa”


Jangan Tertipu Dengan Penjual Yang Mengatakan “Hanya Tersisa” - Kamu pasti pernah melihat iklan dengan tulisan begini, “Dijual Rumah Tipe 45 Hanya Tersisa Satu Unit Saja” atau iklan lainnya begini “Pesan Sekarang, Karena Kamar Hotel Hanya Tersisa 2 Kamar lagi”. Tentu saja iklan tersebut merupakan trik marketing yang dilakukan oleh perusahaan. Ada sebuah kisah menarik, sebut saja namanya Bu Dewi, beliau merasa ketar-ketir karena dua bulan lagi beliau dan keluarga berencana untuk liburan ke London, namun  hotel-hotel disana sudah mengumumkan bahwa kamar hotel sudah di booking semuanya, hanya tersisa 2 kamar saja. What? Padahal Bu Dewi akan berwisata sekeluarga besar, dua kamar hotel mana cukup, pikirnya.

Dalam kondisi rada panik, Bu Dewi ingat ada anak tetangganya yang sedang kuliah di London. Bu Dewi curhat tentang kepanikannya masalah kamar hotel “hanya tersisa 2 kamar”. Anak tetangga yang kuliah di London itu malah tertawa-tawa sambil berkata, “Bu Dewi datang kapan saja, akan selalu tersedia kamar hotel yang kosong. Karena hotel di London itu bejibun jumlahnya.” Dengan terheran-heran Bu Dewi bertanya, “lantas bagaimana pengumuman di internet yang mengatakan hanya tersisa dua kamar saja?” Anak tetangga yang kuliah dibidang bisnis tersebut kembali tertawa dan berkata, “Itu kan cuma trik marketing, agar konsumen panik dan segera memesan kamar hotel, padahal tidak ada kamar yang benar-benar penuh disebuah hotel. Lalu anak tetangga itu melanjutkan “dulu saya pernah juga terkena perangkap itu, saya panic lalu cepat-cepat memesan kamar hotel, karena saya kirain memang benar-benar tersisa satu kamar, pas tiba di Hotel, eh rupanya banyak kamar yang masih kosong tuh.”

Hanya Tersisa 2 Kamar Hotel Biasanya Hanya Trik Yang Digunakan Untuk Membuat Konsumen Segera Memesan Kamar Hotel

Untuk mendapatkan untung yang besar, mendapatkan konsumen dengan cepat dan mudah, pihak penjual memang sering melakukan trik memainkan pikiran dan mindset konsumen. Trik ini hampir sama dengan diskon yang sering kita lihat di mall atau di pusat belanja. Konsumen sering terkena trik “hanya tersisa” dan anehnya banyak konsumen yang menafsirkan bahwa semua sudah terjual laris manis. Jarang sekali konsumen menafsirkan “hanya tersisa” itu sebagai barang yang belum laku, dan seharusnya dijual lebih murah.

Kisah serupa juga terjadi pada Bu Nana (nama samaran), beliau sangat tertarik ketika melihat sebuah spanduk bertuliskan “Rumah Tipe 45, Hanya Tersisa Satu Unit Saja.” Tanpa piker panjang Bu Nana langsung membeli rumah tersebut, mumpung masih tersisa satu, mumpung masih sempat, mumpung masih punya uang, mumpung ini, mumpung itu. Namun ternyata iklan spanduk tersebut tidak bohong, memang benar tersisa satu unit saja, namun rumah tipe 45 hanya dibangun 5 unit saja, dan yang terbanyak rumah lantai 2. Namun celakanya, rumah lantai 2 yang dibangun itu tidak ada yang laku. Akibatnya, hanya ada lima keluarga saja yang menghuni perumahan itu. Karena perumahan itu semakin lama semakin sepi, akhirnya satu per satu keluarga pada pindah meninggalkan perumahan, akhirnya Bu Nana menjadi penghuni terakhir.

Nah dari dua cerita diatas tentu akibat dari iklan “hanya tersisa” sehingga para calon konsumen sering menjadi gegabah dan kemudian segera membeli atau memesan barang dan jasa yang katanya “hanya tersisa”. Oleh karena itu, kita harus menjadi konsumen yang cerdas, mampu menafsirkan trik marketing, sehingga tidak mudah terjebak. Dalam menanggapi promosi “hanya tersisa” ini, kamu harus paham bahwa:

Satu, “hanya tersisa” jangan diartikan sebagai semua barang sejenis telah laku laris-manis, dan hanya produk yang tersisa yang harus segera kamu beli, tidak demikian. Masih banyak produk lain yang sejenis yang bisa kamu beli, tentu memiliki harga dan mutu yang cocok. Kamu harus sering cek dan ricek.

Kedua, “hanya tersisa” itu seharusnya ditafsirkan sebagai “barang sisa yang belum laku” sehingga kita sebagai konsumen harus cerdas memahaminya, dan memikirkan kembali kualitas “barang sisa” tersebut.

Ketiga, “hanya tersisa” jangan menjadikan patokan ataupun idealism dalam berbelanja, jangan jadikan diri kita sebagai si pembeli barang sisa. Intinya adalah teliti sebelum membeli. Saya ingat pepatah dari kakek saya, “kalah beli menang pakai.”

Terimakasih. Selalu kunjungi website ini untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.

0 Response to "Jangan Tertipu Dengan Penjual Yang Mengatakan “Hanya Tersisa”"